Selasa, 12 Mei 2026

Minky Momo ada 2

 Yap, Minky Momo ada dua orang.

Awalnya, saya mencari lagu/ost Minky Momo yang "hilang". Saya bahas di sini: "Lagu Minky Momo yang Hilang". Dalam perjalanan mencari lagu itu, saya baru tahu bahwa sebenarnya: Yak, Minky Momo ada dua orang.

Sebenarnya informasi ini bisa dengan mudah kita dapat di Wikipedia maupun di fandom Minky Momo. Tapi, saya yang baru mengetahui hal ini agak kaget juga dibuatnya.

Dari berbagai sumber didapatkan bahwa Magical Princess Miky Momo dibuat dalam dua musim berbeda, dengan tokoh utama yang sama persis, cuma berbeda dalam beberapa hal. Di sini saya hanya ingin menunjukkan berbagai perbedaan antara dua tokoh Minky Momo ini:

Tampilan 

    Musim 1: hiasan kepala berbentuk 
    Musim 2: hiasan kepala benbentuk ❤️
Ada juga sumber yang mengatakan bahwa boots Momo musim 1 lebih tinggi.

Negeri asal

    Musim 1: Momo berasal dari Fenarinarsa, planetoid ajaib yang mengorbit Bumi dan bergerak menjauh. Misi Momo di Bumi adalah untuk membuat Feraninarsa dekat kembali ke Bumi.

    Musim 2: Momo berasal dari Marinarsa, kerajaan ajaib di dalam air/bawah laut.

Sepertinya raja & ratu dari kedua kerajaan saling kenal dan memiliki misi yang sama.

Peliharaan

     Musim 1: Pipiru 🐤, Shinbook 🐕, Mocha 🐒, Kajira 🐲

     Musim 2: Rupipi 🐤, Cookbook 🐕, Charmo 🐒    

Perhatikan walau jenisnya sama, warna & ukuran peliharaannya beda. Kalau bingung Momo ini Momo yang mana, paling gampang lihat peliharaannya. Kajira: naga kecil yang muncul di akhir

Tayang di Jepang    

     Musim 1: 1982, Magical Princess Minky Momo
     Musim 2: 1991, 
Magical Princess Minky Momo: Hold on to Your Dreams

Tayang di Indonesia

    Musim 1: 2004, Lativi/Spacetoon, tayang sore hari

    Musim 2: 1996 (?), TPI, tayang Minggu pagi

Catatan: Sebagai generasi lawas 😭, saya lebih kenal Minky Momo yg tayang pada 90-an di TPI itu (musim 2). Karenanya, ketika tayang Minky Momo di Lativi/Spacetoon, saya merasa aneh karena ingat banget anjingnya biru, bukan krem. Rupanya semua itu perihal musim yang berbeda.

OST yang terkenal di Indonesia
      Musim 1: Love-love Minky Momo dan Pipiluma
     Musim 2: Daba-daba Fallin' in Love

Catatan: Lagu Daba-daba Fallin' in Love inilah yang sempat saya anggap sebagai lagu yang hilang. Karena tiap bertanya secara daring ke orang-orang, tak ada yg ingat lagu ini. Mereka selalu bilang lagunya Minky Momo adalah Love-love Minky Momo dan Pipiluma. Rupanya, lagi-lagi saya penonton lawas, sementara kebanyakan orang Indonesia nonton Minky Momo pada 2004 itu.
Sebenarnya ada juga beberapa orang yang ingat Minky Momo tahun 90-an di Indonesia beserta lagunya (pasti mereka orang lawas juga). Tapi jumlahnya kalah dibanding penggemar Minky Momo yang tayang 2004.

Pertemuan antara kedua Momo
      Musim 1: Momo dari Fenarinarsa meninggal lalu terlahir kembali sebagai anak dari orang tua angkatnya di Bumi.

     Musim 2: Momo dari Marinarsa pada akhirnya bertemu Momo dari Fenarinarsa rebirth dan mereka bekerja sama. Jadi, sepertinya tidak se-dark itu, ya untuk musim 2 ini.

Tungau Air yang Diberi Nama Mojacko

 Saya tumbuh besar di desa pada tahun 90-an dengan bagian belakang rumah adalah persawahan dan sungai-sungai kecil. Dulu hiburan kami (saya dan kedua adik saya) tak banyak sehingga menjelajahi sawah, kolam kecil, sungai kecil adalah salah satu kegemaran kami saat musim hujan. Satu hal yang blown our mind adalah banyaknya makhluk hidup di air yang aneh-aneh.

Sebagai anak kecil, kami amat takjub karena tak seorangpun membicarakan ini. Tak seorangpum mebicarakan bahwa kecebong itu berbeda-beda ukuran, warna, dan coraknya. Bahkan saat masih kecil, saya sudah menduga bahwa yang abu-abu bulat besar dengan yang hitam bercorak perak lonjong pasti dari spesies katak yang berbeda. Serius, lo, kecebong di kolam itu beda-beda dan agak membuat saya gemes karena tak tahu harus diskusi dengan siapa tentang penemuan besar itu. Tentu saja, teman ngobrol semua itu adalah kedua adik saya yang mau saja mengikuti saya main air.

Oke, cukup tentang kecebong. Di kolam yang jernih, kami juga biasa menemukan kumbang air. Ya, kumbang, berenangnya di air. Oh, you have no idea how happy we were at that time for finding something so unique. Belum pernah terlibat di benak kami ada serangga, tepatnya kumbang, yang bisa berenang di air. Oya, kami saat kecil belum mengenal takut atau ngeri terhadap serangga. Bagi kami, apa yang lucu dan unik, ya lucu dan unik. Saat itupun, kami tak tahu apa sebutan untuk serangga itu sehingga kami tak menamainya secara khusus. Barulah akhir-akhir ini saya tahu bahwa serangga itu desebut diving beetle atau kumbang penyelam. Diving beetle punya dua kaki belakang yang entah bagaimana saat menyelam gerakannya mirip sekali dengan kaki belakang penyu. Gosh, lucu banget.

Lalu ada pula serangga yang lebih kecil, mirip lalat tapi lebih panjang, yang punya dua kaki pendayung. Kami yang masih bocil saat itu menyebutnya lalat air. Tentu karena kami tak tahu apa sebutan untuk serangga itu. Saat ini barulah saya tahu bahwa serangga itu adalah greater water boatman. Apa bahasa Indonesianya? Saya tak tahu. Selama tidak diketahui sebutannya, saya akan tetap memanggilnya lalat air, haha

Si lalat air ini punya adik, serangga air perenang hampir serupa yang sulit sekali kami tangkap. Karenaya kami menyebutnya pelari cepat. Kalau dipikir-pikir harusnya kami memanggilnya penyelam cepat. Rupanya, serangga ini adalah lesser water boatman.

Daaan, hewan air yang paling menakjubkan bagi saya saat kecil adalah Mojacko (Jadiii, Mojacko adalah salah satu tokoh anime saat saya kecil dulu yang berbentuk bola, seukuran bola basket dan berwarna cerah). Di perairan air tawar, saya dan kedua adik saya sering menemukan hewan kecil, berukuran kira-kira 1-3 mm, berbentuk bulat, berwarna cerah (ada yang merah, jingga, hijau), agak berbulu halus, dan bisa berenang dengan cepat. Maaannn, lucu sekali. Terlalu lucu untuk jadi nyata. Karena tak tahu namanya, kami menyebutnya Mojacko.

Saat itu satu hal yang cukup mengganggu pikiran saya adalah, hewan ini sudah diketahui keberadannya secara ilmiah atau belum? Apakah sudah ada orang yang menemukan hewan ini dan memberinya nama? Haha, saya sempat menganggap bahwa belum ada satupun orang yang tahu tentang hewan ini, dan saya perlu memberitahu ilmuwan tentang ini. Tentu saja karena dia amat kecil dan saya yakin tak ada orang dewasa yang cukup peduli untuk memperhatikannya.

Selama bertahun-tahun, saya tak tahu hewan apa itu. Bagi saya, dia adalah Mojacko tanpa tahu dia termasuk hewan apa, bahkan saya tak tahu dia serangga atau bukan. Lalu digerakkan oleh memori masa kecil, saya mencoba mencari hewan itu di internet dengan berbagai kata kunci, "small water bug", "little water insect" dan entah apa lagi. Lalu sampailah saya pada istilah water mites atau tungau air. Jadi, tungau adalah semacam kutu keciiil. Setahu saya, tungau hidup di darat. Tak tahunya, ada juga yang hidup di air. Dan definisi serta penjalasan tentang water mites atau tungau air inilah yang paling mendekati dengan apa yang dulu saat kecil kami sebut sebagai Mojacko.


Minggu, 17 Desember 2023

Lagu Minky Momo yang Hilang (?)

Anime atau kartun hari Minggu bisa dibilang adalah tontonan utama anak-anak 90-an, termasuk saya. Salah satu anime yang saya sukai dan bahkan mungkin saya favoritkan dulu adalah Minky Momo yang bertema magical girl. Minky Momo adalah gadis kecil pra-remaja dari negeri ajaib yang bisa berubah menjadi wanita dewasa dengan profesi tertentu untuk membantu siapa saja yang membutuhkan. Di dunia/bumi, ia tinggal dengan sepasang suami istri biasa sebagai anak mereka. Itu yang saya ingat.

By the way, saya nonton dan menggemari Minky Momo saat saya berusia sekita 10--13 tahun, sekitar akhir tahun 1990-an(?), jadi yaaa... itu sudah lebih dari 20 tahun lalu, haha.

Lalu, di usia dewasa ini, ketika internet bisa dimanfaatkan sehari-hari dari genggaman tangan, saya mulai menemukan banyak yang mengunggah lagu-lagu anime. Oya, sebagian besar generasi 90-an pasti tahu bahwa anime jadul masa kecil kita dulu lagu-lagunya sering disulih ke bahasa Indonesia: Dragon Balls, Detective Conan, Sailor Moon, One Piece, Dr. Slump, Ninja Hatori, Crayon Sinchan, dan masih banyak lagi. Termasuk juga Minky Momo.

Di sinilah saya kebingungan.

Jadi, ada lagu penutup Minky Momo berbahasa Indonesia yang pernah saya favoritkan. Tapi ketika mencoba mencari lagu itu di YouTube dan media lain, lagu itu tidak saya temukan. Ada dua lagu pembuka dan penutup Minky Momo berbahasa Indonesia yang bisa dengan mudah ditemukan di YouTube, yaitu:

1. "Love-love Minky Momo, cobalah kau dengarkan ♫♫♫"

2. "Pipiluma -- hati berdebar lirikan matanya ♫♫♫"

Anehnya, kedua lagu itu tidak terlalu saya ingat. Saya benar-benar tidak yakin bahwa saya pernah mendengar lagu itu sebelumya sebagai soundtrack Minky Momo di TV pada hari Minggu. Dan lebih aneh lagi, lagu yang saya ingat sebagai favorit justru tak ada. Atau tak ada yang mengunggah?

Semakin saya coba mengingat, semakin kecil keyakinan saya bahwa lagu yang saya ingat itu ada. Dan karena lagu yang saya tidak ingat justru ada, saya berpikir: jangan-jangan saya terkena Mandela Effect. Konon fenomena ini sering berhubungan dengan tontonan masa kecil kita. Ini semakin buruk dengan adanya:

1. Teori konspirasi Minky Momo, di mana setiap episode terakhirnya di Jepang, baik pemutaran awal maupun pemutaran kedua, selalu ada bencana alam.

2. Ada komentar di salah satu unggahan bahwa Minky Momo diputar sore sementara saya nonton Minky Momo di Minggu pagi. I was loosing my mind


3. Seingat saya anjing Momo tidak berwarna coklat seperti yang populer di Indonesia

Laluuu...
Ketika membaca laman Wikipedia dan fandom tentang Minky Momo, saya mendapat info bahwa Minky Momo ini ada dua orang dan  dibuat dalam dua musim berbeda:

Musim 1. Dia berasal dari negeri Fenarinarsa di langit; nama peliharaannya: Sindbook (berwarna coklat muda), Mocha, Pipiru, Kajira (naga, jarang muncul); rambut Momo berwarna pink. Aksesorisnya berbentuk bintang.

Musim 2. Dia berasal dari negeri Marinarsa di laut; nama peliharaannya: Cookbook (berwarna biru), Charmo, Rupipi; rambut Momo lebih merah. Aksesorisnya berbentuk hati. Di musim ini, pada bagian akhir, kedua Momo bertemu dan bekerja sama.

 

Nice info, tapi yang lebih membantu adalah pada bagian Sountracks:


Dari keempat singles itu, single ketiga yang berjudul Yume wo Dakishimete yang mungkin terjemahannya adalah Raih Mimpimu adalah jawaban yang saya cari-cari. Setidaknya hampir seluruh jawaban yang saya cari.

Jadi, ketika kamu memasukkan kata kunci Yume wo Dakishimete - Ending 1 di pencarian YouTube, kamu pasti akan menemukan lagu yang saya cari. Versi asli, dalam bahasa Jepang, sih. Tapi, setidaknya saya sudah tahu bahwa ingatan saya tidak salah: lagu itu ada.

Dari tahunnya, Yume wo Dakishimete ini sepertinya adalah bagian dari musim 2. Dan ini sesuai dengan ingatan saya bahwa Momo berasal dari istana di dasar laut dan anjingnya berwarna biru.

Daaan, sebenarnya, yang perlu saya lakukan sejak awal adalah menyelam di bagian komentar pada unggahan tentang lagu Minky Momo karena rupanya di situ ada jawaban yang paling memuaskan saya:

 


Jadiii, kesimpulannya:

1. Lagu/ost yang saya cari adalah versi pemutaran TPI pada 1996, sementara yang populer adalah versi pemutaran Scacetoon 2004 (yang sepertinya tayang sore dan saya tak begitu tahu ini)

2. Banyak komentar yang mengatakan bahwa Minky Momo ini agak dark karena di bagian ending dia tertabrak truk lalu lahir kembali. Ini adalah cerita Momo musim 1 berdasarkan Wikipedia (rambut pink, anjingnya coklat). Dan di musim 1 ini, Momo berasal dari luar angkasa. Sementara yang saya ingat, istana Momo dari dasar laut, anjingnya biru, yang berarti Momo musim 2. Jadiii, ada kemungkinan bahwa: pemutaran Minggu pagi TPI 1996 adalah Momo musim 2, pemutaran sore Spacetoon 2004 adalah Momo musim 1. Yang berarti juga, wajar jika ost atau lagunya berbeda.


Sekian,

A little fan yang sempat mengira dirinya terkena Mandela Effect dari lagu Minky Momo



Minggu, 12 Agustus 2012

Itazura na KiSS

Yap, Itazura na Kiss.
Drama? Iya.
Anime? Iya.
Manga? Iya.

Bahkan dramanya sendiri ada 3 versi, Jepang (atau biasa disebut dorama atau j-drama), Taiwan, lalu Korea Selatan. Kalau versi sinetron Indonesia-nya dimasukkan, berarti ya ada 4 versi dramanya, sejauh yang saya tahu. Dia tidak selalu dikenal sebagai Itazura na Kiss, nama lainnya It Started with a Kiss, Playful Kiss, Mischievous Kiss, Naughty Kiss, Ciuman Pertama.

Nah, kenapa saya tiba-tiba pengen bahas Itazura na Kiss? Hmm, mungkin karena saya menyukainya dan ingin suatu saat teringat bahwa saya suka drama ini, terutama yang berjudul It Started with a Kiss yang tidak lain adalah versi drama Taiwan-nya. Kenapa harus yang ini? Memang, selama ini drama-drama yang saya sukai adalah j-drama karena tema-tema yang diangkat lebih menarik dan variatif, selain komedi romantis ada yang tentang kedokteran, psikologi, forensik, kelainan aneh, bahkan politik tapi semaunya menarik untuk ditonton. Bingung bagaimana drama tentang politik bisa menarik? Yah, tonton saja Change di mana Takuya Kimura menjadi perdara menteri. Oke, kembali ke topik. Ya, saya paling suka versi Taiwan-nya, simple-nya karena menurut saya di antara semua versi dramanya, dia yang paling oke.


Diantara versi dramanya, yang paling tua adalah Itazura na Kiss yaitu versi Jepang-nya: 1996; disusul It Started with a Kiss versi Taiwan: 2005; lalu Playful Kiss versi Korea Selatan: 2010. Ada jeda empat belas tahun antara versi 1 dengan 3, karenanya menurut saya versi 1 untuk ditonton saat ini jadi kurang bagus, mungkin karena sudah jadul. Hmm aneh, padahal dulu rasanya bagus banget. Tapi temanya memang bagus, mungkin termasuk salah satu drama yang mempopulerkan tema komedi_romantis_di_mana_cewek_suka_duluan. Drama dengan tema seperti itu sekarang banyak, tapi pada tahun 1996, rasa-rasanya tidak, hmm sok tahu saya. Manga-nya sendiri, yang merupakan pelopor Itazura na Kiss ada sejak tahun 1990. Untuk versi anime baru dikerjakan oleh Jepang pada 2008.

Versi 1, kenapa menurut saya kurang bagus? Jujur saja, saya tidak merasakan chemistry antara Kotoko dengan Naoki, bahkan di pertengahan episode terakhir, yaitu episode 9, rasanya belum bisa percaya bahwa mereka akan bersatu. Memang jalan ceritanya adalah Naoki baru menyadari perasaannya di akhir cerita, tapi dikemas kurang smooth sehingga terkesan kurang alami dan menurut saya pernyataan cinta Naoki kurang so sweet, hehe. Di lagu ending-nya, pose-pose Kotoko dengan Naoki yang sama dengan pose-pose tokoh manga memang bagus, tapi justru seperti usaha terakhir untuk menunjukkan “tenang saja mereka pasti bersatu” di mana hal tersebut kurang terlihat di jalan ceritanya.

Walaupun begitu, Irie Naoki tidak tergantikan oleh Jiang Zhi Shu maupun Baek Seung Jo. Siapa mereka? Kita bahas nanti. Lalu Aihara Kotoko-nya, memang adalah tokoh yang bodoh, tapi dia terlalu menyebalkan bahkan bagi saya yang jarang kesal dengan karakter dalam cerita. Saya selalu merasa, seharusnya tokoh Kotoko tidak seperti ini. Dalam manga maupun anime, Kotoko memang bodoh tapi manis, sementara di drama tidak ada kesan begitu. Atau mungkin yang garap drama ini ingin tokoh yang seperti itu ya? Saya juga gak tahu.


Haha, saya tidak membenci Kotoko, saya hanya tidak setuju dengan karakternya. Lagi pula saya suka drama ini. Memang kurang bagus menurut saya tapi saya suka. Sampai dibuat dalam tiga versi membuktikan bahwa temanya cukup bagus dan cukup punya nama.

Saat SMA, ada seorang teman saya yang ganteng, tinggi, pintar (di kelas unggulan) dan cool. Saya dan beberapa teman perempuan sering menyebutnya Naoki. Potongan rambutnya waktu itu juga Naoki banget. Eh, setelah lulus SMA dia kuliah di kedokteran, just like Naoki. Saya semakin melongo dibuatnya. Haha, tapi saya bukan Kotoko karena rasanya saya tidak sebodoh dia, cerobohnya sih agak-agak mirip ya, hehe. Lagi pula saya tidak pernah naksir Naoki versi teman SMA saya ini.

Seiring waktu berlalu, saya mendapat kabar bahwa ada Playful Kiss, versi Korea Selatan-nya. Waktu itu saya kurang tertarik karena membanjirnya drama Korea Selatan di negeri ini membuat saya kurang berminat. Ketika versi 3 ini diputar di salah satu stasiun TV saya malah tiba-tiba kangen nonton versi 1-nya. Hal itulah yang membuat saya rajin mencari info tentang versi 1 yang sudah lama tidak saya tonton itu. Dan pada saat itulah saya tahu ada yang namanya It Started with a Kiss, si versi 2. Bagaimana mungkin saya sampai tidak tahu hal ini?! Haha, #lebay.

Akhirnya, selesai nonton versi 1, saya pun melanjutkan nonton versi 2. Awalnya hanya karena penasaran. Tapi setelah tonton, saya mulai merasa versi 2 ini bagus bangeeet. Rupanya ada perubahan jalan cerita dari versi 1 tapi dengan inti cerita tetap sama.

Aihara Kotoko: Yuan Xiang Qin dan Irie Naoki: Jiang Zhi Shu. Sewaktu lihat Xiang Qin, dalam hati saya berkata, “Nah, Kotoko seharusnya seperti ini.” Xiang Qin tidak begitu cantik, tapi manis, mungil dan imut, raut muka yang agak terlihat tolol (mungkin ini akting) justru membuatnya terlihat lucu. Sekilas manisnya mirip dengan Angel Karamoy tapi imutnya mirip Putri Titian, tentu saja ini subjektivitas saya. Sementara Zhi Shu, sesuai dugaan: tinggi, cool, ganteng. Walaupun di awal ada kesan “ah, tidak seperti Naoki” tapi lama-kelamaan saya merasa bahwa Zhi Shu keren dengan caranya sendiri.


Awalnya saya bingung, kenapa versi 2 ini ada sampai 30 episode, padahal versi 1 cuma 9 episode. Setelah saya tonton ternyata ada perubahan jalan cerita. Misalnya pada versi 1, Naoki hanya berencana untuk keluar dari rumah dan tinggal sendiri, di versi 2, Zhi Shu benar-benar melakukannya. Kemudian versi 1, kampus Kotoko dengan Naoki berbeda dan kehidupan kuliah mereka hanya diceritakan singkat saja, pada versi 2, Xiang Qin dengan Zhi Shu kuliah di tempat yang sama dan masa kuliah mereka dicertakan lebih panjang daripada masa SMA.

Satu hal yang saya perhatikan dari drama Taiwan adalah pakaian yang dikenakan pemainnya. Kenapa? Karena pakaian keseharian mereka sederhana, seperti yang dikenakan keseharian oleh orang biasa. Saat memerankan mahasiswa, pakaian mereka tidak berbeda dengan mahasiswa lain yang terekam di latar belakangnya. Bahkan satu pakaian yang sama kadang terlihat muncul lebih dari sekali untuk episod yang berbeda. Bagi saya yang orang sederhana ini, hal itu adalah nilai plus karena justru membuat cerita terlihat alami. Apalagi Zhi Shu yang punya kebiasaan membungkus kepalanya dengan handuk olahraga saat berolahraga baik basket maupun tenis membuatnya terlihat semakin jantan dan sporty karena terkesan dilakukan lebih untuk fungsional dari pada sekedar fesyen.


Dan perjalanan cinta antara Xiang Qin dengan Zhi Shu pun lebih alami karena ada cukup banyak episod untuk menceritakannya. Tidak terburu-buru. Chemistry antara keduanya pun dapet banget. Hmm, lagi-lagi chemistry, apa itu ya, =P. Di awal cerita setelah ditolak tapi tahu bahwa dia harus tinggal di rumah Zhi Shu, Xiang Qin tidak serta merta gembira bahkan bersikap agak menghindar karena ada rasa malu dan kesal. Yah, cewek mana yang bisa langsung menerima bahwa dirinya ditolak.

Adegan ciuman, rasanya ini harus dibahas khusus mengingat judul-judulnya selalu menggunakan kata Kiss, kalau versi 1 ciuman pertama mereka tidak sengaja terjadi yaitu tubrukan di koridor sekolah, tidak demikian dengan versi 2. Xiang Qin dan Zhi Shu sedang saling kesal, lalu Xiang Qin berkata bahwa dia tidak akan menyukai Zhi Shu lagi setelah lulus SMA, spontan he kiss her just like that. Maksud saya benar-benar spontan, Zhi Shu yang tidak merencanakannya juga terkejut, dalam hitungan detik setelah ciuman di matanya tergambar keterkejutan itu tapi segera ia menguasai dirinya, menjulurkan lidah dan meninggalkan Xiang Qin yang masih terpaku.

 After the 1st kiss: Dalam hitungan detik, sorot mata si cowok berkata,"What just I did?". Lucunya...

Selain ciuman, ada tiga adegan yang terus saya ingat: Zhi Shu yang memayungi tubuh Xiang Qin yang sedang sakit saat mencari taksi di tengah hujan lebat padahal tubuhnya sendiri kebasahan; kalutnya Xiang Qin saat Yu Shu, adik Zhi Shu (atau Yuki yang menyebalkan itu), jatuh sakit tiba-tiba dan bagaimana ia menangis di rumah sakit; dan Zhi Shu yang akhirnya menyadari bahwa dirinya juga menyukai Xiang Qin. Ketiga adegan itu benar-benar sesuatu yang terus saya ingat berhari-hari bahkan berminggu-minggu setelah menontonnya. Bahkan saya tonton lagi dan lagi episode-episode itu dan tetap merasa “ya ampun, so sweet”. Kadang saya ikut menangis saat menontonnya, sesuatu yang sangat jarang terjadi saat saya nonton drama atau film lain. Kalau saya boleh menilai, akting mereka sangat alami dan bagus sekali, tapi saya peringatkan bahwa saya bukanlah ahli dunia akting, hahaha.

Versi 2 ini bukan tidak ada kurangnya sama sekali. Kalau Kotoko hanya harus bersaing dengan satu orang untuk mendapatkan Naoki (yaitu Rieko Matsumoto, ingat?), maka Xiang Qin harus bersaing dengan dua orang untuk mendapatkan Zhi Shu, tiga orang bila adik salah satu saingannya yang juga sempat naksir Zhi Shu dihitung. Walaupun saingan-saingan ini tidak selalu muncul bersamaan. Mungkin episod yang panjang itu mengharuskan mereka untuk memasukkan lebih banyak pemain, entahlah.

Versi 2 ini berakhir dengan pernikahan. Akan tetapi ternyata ada season 2-nya. Dan saya belum sempat nonton! Ada yang kurang rasanya. Season 2 ini berjudul They Kiss Again, konon katanya menceritakan kehidupan mereka setelah menikah dan usaha Xiang Qin menggapai mimpinya menjadi perawat. Masih bertekad dalam hati bahwa suatu saat saya pasti akan mendapatkannya karena sekarang ini saya masih mencari j-drama lain serta Itazura na Kiss versi anime yang diproduksi tahun 2008 itu dan baru sempat saya cari sekarang.

Untuk versi anime, yah walaupun belum semua episodenya saya dapatkan, tapi dari sekilas nonton saya simpulkan bahwa jalan ceritanya sama dengan versi 2. Tentu saja dengan perbedaan pada hal-hal detail salah satunya pada unsur budaya karena versi 2 drama Taiwan sementara anime ini buatan Jepang. Versi anime ada 25 episode yang tidak hanya menceritakan masa SMA sampai menikah tapi juga kehidupan setelah mereka menikah. Sepertinya untuk kehidupan setelah menikah ini jalan ceritanya menyerupai jalan cerita They Kiss Again, dugaan saya karena saya belum tahu pasti sebelum nonton They Kiss Again. Oya, Aihara Kotoko dan Irie Naoki, kedua nama itu juga yang digunakan oleh versi anime.

Kemudian saya nonton versi 3. Senang rasanya bisa tahu semua versi dari tiga negara berbeda ini. Maka setelah merampungkan nonton versi 2 pun saya lanjutkan nonton versi 3.

Aihara Kotoko: Oh Ha Ni dan Irie Naoki: Baek Seung Jo. Keduanya juga pas, Ha Ni manis dan Seung Jo keren. Stereotipnya sama dengan tokoh manga-nya. Untuk jalan cerita sebagian besar mengambil dari versi 2 dan versi anime.


Untuk first kiss versi 3 ini, alasan terjadinya sama dengan versi 2, yaitu Ha Ni yang mengatakan bahwa setelah lulus SMA ia akan melupakan Seung Jo malah mendapatkan ciuman. Perbedannya, bila Zhi Shu spontan mencium Xiang Qin, maka ciuman Seung Jo kepada Ha Ni terjadi lebih smooth karena Seung Jo sengaja melakukannya untuk menguji atau meledek Ha Ni. Tapi jujur menurut saya adegannya versi 2 yang spontan itu lebih hidup.

  After the 1st kiss: Si cowok sengaja menguji si cewek dengan menciumnya.
 

Keunggulan dari si versi 3 adalah panjang cerita yang pas, tidak terlalu pendek, tidak terlalu panjang tapi seluruh cerita terangkum dengan baik, ada 16 episode plus 7 episode spesial tentang kehidupan setelah menikah. Saya menduga episod-episod spesial ini sama kayak They Kiss Again, lagi-lagi menduga karena memang, saya belum nonton They Kiss Again, hehe.

Selain itu, karena diproduksi terakhir di antara semua versi Itazura na Kiss (setidaknya sampai tulisan ini diturunkan), versi 3 banyak mengambil poin-poin plus atau hal-hal yang bagus dari versi 1, versi 2, dan versi anime terutama dalam jalan cerita. Tentu saja mereka yang membuatnya juga punya bumbu tambahan sendiri termasuk berbagai hal khas Korea Selatan.

Nah, dari keunggulannya itu, kenapa saya tidak memfavoritkannya? Karena menurut saya pasangan Ha Ni dengan Seung Jo kurang greget. Di antara ketiga adegan yang saya favoritkan di versi 2, greget di versi 3-nya kurang. Selain itu tidak ada adegan lain di versi 3 yang terasa spesial untuk dikenang berminggu-minggu kemudian.

Kemudian tokoh Ha Ni, memang lucu dan manis, tapi tidak segila Xiang Qin yang saat adegan lucu bisa membuat saya ngakak dan saat adegan sedih bisa membuat mata saya berkaca-kaca. Untuk Seung Jo, menurut saya oke, tidak ada yang kurang, walaupun kadang saya kurang setuju dengan dandanannya. Saat main tenis misalnya, dia pernah memakai ikat kepala kecil yang terlihat tidak ada fungsinya selain untuk bergaya. Maklum, saya memang tidak tahu fesyen.


Dan dari segi pakaian yang dikenakan dalam drama, seperti yang saya kenali dalam drama-drama Korea Selatan lainnya, pemeran selalu mencolok bila dibandingkan dengan orang lainnya. Eits, saya tidak bilang ini buruk karena mungkin itu adalah salah satu cara mereka memperkenalkan mode. Dan memang pakaian yang mereka kenakan bagus-bagus apalagi untuk yang cewek (kalau untuk yang cowok, sejujurnya saya ill feel dengan atasan ketat berkerah dower yang sering muncul di drama-drama Korea Selatan, ups).

 

Yang jelas, menyenangkan bisa nonton ketiga versi dramanya. Sekarang saya sedang dalam proses untuk melengkapi versi anime-nya, setelah itu saya akan mencari manga-nya yang dulu sekali belum rampung saya baca, agar koleksi Itazura na Kiss saya benar-benar komplit.
Not an expert judgement, just the opinion of a little fan.

Rabu, 18 Juli 2012

Saya (Masih) Suka Anime

Bicara tentang anime, saya teringat pernah membaca sekilas sebuah artikel yang bertema: “kebanyakan anime bukan tontonan anak-anak”, saat itu saya masih kelas 7. Saat membaca judul artikel itu, yang terlintas di pikiran saya, “Pasti yang menulis artikel ini adalah orang dewasa yang tidak suka melihat anak-anak nonton anime. Pasti anak-anak cuma disuruh sekolah dan belajar dan tidak nakal.” Lalu saya baca sekilas isi artikel itu dan saya mulai sedikit tahu bahwa yang dibicarakan oleh penulis artikel itu adalah: rating.

Sewaktu SMA, saya sedang menggandrungi Slam Dunk, anime yang diangkat dari manga karya Inoue Takehiko. Saat sedang ngobrol santai dengan salah seorang teman, saya bilang bahwa saya suka banget nonton anime itu dan tanggapannya adalah, “Kalau aku sih sudah gak suka nonton KARTUN.” Waktu itu dia mungkin keheranan kenapa saya yang sudah SMA ini masih suka nonton “kartun”, tapi saya juga keheranan kenapa dia menyebutnya “kartun”.

Memang kebanyakan orang di sekitar saya akan bereaksi sama bila tahu saya suka atau sedang nonton anime. Terus terang saya kesal. Rasanya saya ingin membela diri tapi tidak tahu bagaimana atau apa yang harus saya katakan, karena memang pada dasarnya saya suka “kartun”.

Yah, kebanyakan orang masih menyebutnya kartun, sejenis dengan Mickey Mouse, Tom & Jerry, Winnie The Pooh. Kalau saya lebih suka menyebutnya anime. Sebenarnya secara harfiah saya tidak mengetahui perbedaan antara keduanya, tapi sepertinya anime adalah bagian dari kartun. Hanya saja jika melihat cara pandang  orang-orang di sekitar saya, saya lebih suka membedakannya, terutama dalam bobot cerita. Kartun umumnya diperuntukkan bagi anak-anak, sementara anime memiliki jangkauan rating beragam salah satunya karena faktor bobot cerita.

Dengan kegemaran saya yang belum berubah terhadap kartun, maksud saya anime, sayapun mulai teringat kembali artikel yang dulu pernah saya baca sewaktu SMP, mengenai rating dalam anime, atau kartun dari Jepang. Pada dasarnya tidak semua anime diperuntukkan kepada anak-anak. Banyak diantaranya yang mengisahkan petarung sehingga adegan pertarungan sengit yang pasti ada tentu tidak seharusnya menjadi konsumsi anak kecil. Dan kadang ada beberapa anime yang mengandung adegan cukup “dewasa”. Belum lagi pakaian yang dikenakan oleh kebanyakan karakter perempuannya yang seksi. Lalu ada pula yang banyak mengisahkan pembunuhan. Dan memang, anak kecil menyerap informasi akan sekelilingnya jauh lebih banyak dari pada orang dewasa dan mereka masih pada tahap meniru, jadi wajar bila penulis artikel di majalah itu membicarakan rating untuk anime.

Di luar itu semua, anime adalah tontonan yang berkualitas.  Bukan hanya film atau drama yang dimainkan oleh manusia saja yang memiliki bobot, bahkan jalan cerita yang kompleks. Bicara tentang jalan cerita yang kompleks, saya tidak akan melupakan Death Note yang diangkat dari manga karya Tsigumi Ohba dan Takeshi Obata. Versi manga-nya saja bagi saya adalah salah satu cerita narasi paling rumit yang pernah saya baca. Saya juga akan selalu ingat bagaimana kreatifnya Aoyama Gosho dalam membuat tiap cerita Detective Conan. Juga bagaimana kompleksnya jalan cerita dalam Gundam dan kerennya para mecha jauh sebelum ada Transformer. Kemudian ada Rurouni Kenshin dari manga karya Nobuhiro Watsuki yang setting-nya tidak main-main yaitu Jepang pada masa Restorasi Meiji. Dan tentu saja Hana Yori Dango, dari manga karya Yoko Kamio, yang akan menggelikan kalau anime-nya diputar sebagai tontonan anak-anak sementara ketiga versi dramanya (Hana Yori Dango: Jepang, Meteor Garden: Taiwan, BBF: Korea Selatan) adalah tontonan remaja.

Karenanya cukup mengherankan ketika anime-anime yang cukup dewasa (bobot ceritanya) diputar Minggu pagi oleh stasiun TV swasta dengan pembuka, “Adik-adik yang manis, saatnya kita nonton…”. Eaaa….!!! Akibatnya banyak orangtua yang protes karena anak-anaknya menonton acara yang lebih dewasa dari usianya.

Dan dengan alasan yang sama, saya heran bila ada seseorang yang mengatakan, “Sudah gede kok masih nonton kartun,” kepada saya.

Untuk teman saya yang sudah-tidak-suka-nonton-kartun.

Selasa, 03 Mei 2011

Melukis Sepatu

Sepatu kanvasku yang sudah tidak baru lagi:


Saat beli setahun yang lalu, niatnya memang untuk dilukis, tapi belum juga sempat.



 Ayo, melukis sepatu...! Ini alat dan bahan yang diperlukan:

Mengencerkan cat putih dengan air.

Cat perdana seluruhnya untuk menutup pori-porinya.

Tunggu sampai kering.

Pola bisa digambar dengan pensil.

Mengencerkan cat selanjutnya. Blue is my favorite.

Biru perdana.


Dari pada sisa, hehe..

Hitam perdana.

Semakin banyak hitam.

Finish!

Oya, keringkan dulu.