Minggu, 12 Agustus 2012

Itazura na KiSS

Yap, Itazura na Kiss.
Drama? Iya.
Anime? Iya.
Manga? Iya.

Bahkan dramanya sendiri ada 3 versi, Jepang (atau biasa disebut dorama atau j-drama), Taiwan, lalu Korea Selatan. Kalau versi sinetron Indonesia-nya dimasukkan, berarti ya ada 4 versi dramanya, sejauh yang saya tahu. Dia tidak selalu dikenal sebagai Itazura na Kiss, nama lainnya It Started with a Kiss, Playful Kiss, Mischievous Kiss, Naughty Kiss, Ciuman Pertama.

Nah, kenapa saya tiba-tiba pengen bahas Itazura na Kiss? Hmm, mungkin karena saya menyukainya dan ingin suatu saat teringat bahwa saya suka drama ini, terutama yang berjudul It Started with a Kiss yang tidak lain adalah versi drama Taiwan-nya. Kenapa harus yang ini? Memang, selama ini drama-drama yang saya sukai adalah j-drama karena tema-tema yang diangkat lebih menarik dan variatif, selain komedi romantis ada yang tentang kedokteran, psikologi, forensik, kelainan aneh, bahkan politik tapi semaunya menarik untuk ditonton. Bingung bagaimana drama tentang politik bisa menarik? Yah, tonton saja Change di mana Takuya Kimura menjadi perdara menteri. Oke, kembali ke topik. Ya, saya paling suka versi Taiwan-nya, simple-nya karena menurut saya di antara semua versi dramanya, dia yang paling oke.


Diantara versi dramanya, yang paling tua adalah Itazura na Kiss yaitu versi Jepang-nya: 1996; disusul It Started with a Kiss versi Taiwan: 2005; lalu Playful Kiss versi Korea Selatan: 2010. Ada jeda empat belas tahun antara versi 1 dengan 3, karenanya menurut saya versi 1 untuk ditonton saat ini jadi kurang bagus, mungkin karena sudah jadul. Hmm aneh, padahal dulu rasanya bagus banget. Tapi temanya memang bagus, mungkin termasuk salah satu drama yang mempopulerkan tema komedi_romantis_di_mana_cewek_suka_duluan. Drama dengan tema seperti itu sekarang banyak, tapi pada tahun 1996, rasa-rasanya tidak, hmm sok tahu saya. Manga-nya sendiri, yang merupakan pelopor Itazura na Kiss ada sejak tahun 1990. Untuk versi anime baru dikerjakan oleh Jepang pada 2008.

Versi 1, kenapa menurut saya kurang bagus? Jujur saja, saya tidak merasakan chemistry antara Kotoko dengan Naoki, bahkan di pertengahan episode terakhir, yaitu episode 9, rasanya belum bisa percaya bahwa mereka akan bersatu. Memang jalan ceritanya adalah Naoki baru menyadari perasaannya di akhir cerita, tapi dikemas kurang smooth sehingga terkesan kurang alami dan menurut saya pernyataan cinta Naoki kurang so sweet, hehe. Di lagu ending-nya, pose-pose Kotoko dengan Naoki yang sama dengan pose-pose tokoh manga memang bagus, tapi justru seperti usaha terakhir untuk menunjukkan “tenang saja mereka pasti bersatu” di mana hal tersebut kurang terlihat di jalan ceritanya.

Walaupun begitu, Irie Naoki tidak tergantikan oleh Jiang Zhi Shu maupun Baek Seung Jo. Siapa mereka? Kita bahas nanti. Lalu Aihara Kotoko-nya, memang adalah tokoh yang bodoh, tapi dia terlalu menyebalkan bahkan bagi saya yang jarang kesal dengan karakter dalam cerita. Saya selalu merasa, seharusnya tokoh Kotoko tidak seperti ini. Dalam manga maupun anime, Kotoko memang bodoh tapi manis, sementara di drama tidak ada kesan begitu. Atau mungkin yang garap drama ini ingin tokoh yang seperti itu ya? Saya juga gak tahu.


Haha, saya tidak membenci Kotoko, saya hanya tidak setuju dengan karakternya. Lagi pula saya suka drama ini. Memang kurang bagus menurut saya tapi saya suka. Sampai dibuat dalam tiga versi membuktikan bahwa temanya cukup bagus dan cukup punya nama.

Saat SMA, ada seorang teman saya yang ganteng, tinggi, pintar (di kelas unggulan) dan cool. Saya dan beberapa teman perempuan sering menyebutnya Naoki. Potongan rambutnya waktu itu juga Naoki banget. Eh, setelah lulus SMA dia kuliah di kedokteran, just like Naoki. Saya semakin melongo dibuatnya. Haha, tapi saya bukan Kotoko karena rasanya saya tidak sebodoh dia, cerobohnya sih agak-agak mirip ya, hehe. Lagi pula saya tidak pernah naksir Naoki versi teman SMA saya ini.

Seiring waktu berlalu, saya mendapat kabar bahwa ada Playful Kiss, versi Korea Selatan-nya. Waktu itu saya kurang tertarik karena membanjirnya drama Korea Selatan di negeri ini membuat saya kurang berminat. Ketika versi 3 ini diputar di salah satu stasiun TV saya malah tiba-tiba kangen nonton versi 1-nya. Hal itulah yang membuat saya rajin mencari info tentang versi 1 yang sudah lama tidak saya tonton itu. Dan pada saat itulah saya tahu ada yang namanya It Started with a Kiss, si versi 2. Bagaimana mungkin saya sampai tidak tahu hal ini?! Haha, #lebay.

Akhirnya, selesai nonton versi 1, saya pun melanjutkan nonton versi 2. Awalnya hanya karena penasaran. Tapi setelah tonton, saya mulai merasa versi 2 ini bagus bangeeet. Rupanya ada perubahan jalan cerita dari versi 1 tapi dengan inti cerita tetap sama.

Aihara Kotoko: Yuan Xiang Qin dan Irie Naoki: Jiang Zhi Shu. Sewaktu lihat Xiang Qin, dalam hati saya berkata, “Nah, Kotoko seharusnya seperti ini.” Xiang Qin tidak begitu cantik, tapi manis, mungil dan imut, raut muka yang agak terlihat tolol (mungkin ini akting) justru membuatnya terlihat lucu. Sekilas manisnya mirip dengan Angel Karamoy tapi imutnya mirip Putri Titian, tentu saja ini subjektivitas saya. Sementara Zhi Shu, sesuai dugaan: tinggi, cool, ganteng. Walaupun di awal ada kesan “ah, tidak seperti Naoki” tapi lama-kelamaan saya merasa bahwa Zhi Shu keren dengan caranya sendiri.


Awalnya saya bingung, kenapa versi 2 ini ada sampai 30 episode, padahal versi 1 cuma 9 episode. Setelah saya tonton ternyata ada perubahan jalan cerita. Misalnya pada versi 1, Naoki hanya berencana untuk keluar dari rumah dan tinggal sendiri, di versi 2, Zhi Shu benar-benar melakukannya. Kemudian versi 1, kampus Kotoko dengan Naoki berbeda dan kehidupan kuliah mereka hanya diceritakan singkat saja, pada versi 2, Xiang Qin dengan Zhi Shu kuliah di tempat yang sama dan masa kuliah mereka dicertakan lebih panjang daripada masa SMA.

Satu hal yang saya perhatikan dari drama Taiwan adalah pakaian yang dikenakan pemainnya. Kenapa? Karena pakaian keseharian mereka sederhana, seperti yang dikenakan keseharian oleh orang biasa. Saat memerankan mahasiswa, pakaian mereka tidak berbeda dengan mahasiswa lain yang terekam di latar belakangnya. Bahkan satu pakaian yang sama kadang terlihat muncul lebih dari sekali untuk episod yang berbeda. Bagi saya yang orang sederhana ini, hal itu adalah nilai plus karena justru membuat cerita terlihat alami. Apalagi Zhi Shu yang punya kebiasaan membungkus kepalanya dengan handuk olahraga saat berolahraga baik basket maupun tenis membuatnya terlihat semakin jantan dan sporty karena terkesan dilakukan lebih untuk fungsional dari pada sekedar fesyen.


Dan perjalanan cinta antara Xiang Qin dengan Zhi Shu pun lebih alami karena ada cukup banyak episod untuk menceritakannya. Tidak terburu-buru. Chemistry antara keduanya pun dapet banget. Hmm, lagi-lagi chemistry, apa itu ya, =P. Di awal cerita setelah ditolak tapi tahu bahwa dia harus tinggal di rumah Zhi Shu, Xiang Qin tidak serta merta gembira bahkan bersikap agak menghindar karena ada rasa malu dan kesal. Yah, cewek mana yang bisa langsung menerima bahwa dirinya ditolak.

Adegan ciuman, rasanya ini harus dibahas khusus mengingat judul-judulnya selalu menggunakan kata Kiss, kalau versi 1 ciuman pertama mereka tidak sengaja terjadi yaitu tubrukan di koridor sekolah, tidak demikian dengan versi 2. Xiang Qin dan Zhi Shu sedang saling kesal, lalu Xiang Qin berkata bahwa dia tidak akan menyukai Zhi Shu lagi setelah lulus SMA, spontan he kiss her just like that. Maksud saya benar-benar spontan, Zhi Shu yang tidak merencanakannya juga terkejut, dalam hitungan detik setelah ciuman di matanya tergambar keterkejutan itu tapi segera ia menguasai dirinya, menjulurkan lidah dan meninggalkan Xiang Qin yang masih terpaku.

 After the 1st kiss: Dalam hitungan detik, sorot mata si cowok berkata,"What just I did?". Lucunya...

Selain ciuman, ada tiga adegan yang terus saya ingat: Zhi Shu yang memayungi tubuh Xiang Qin yang sedang sakit saat mencari taksi di tengah hujan lebat padahal tubuhnya sendiri kebasahan; kalutnya Xiang Qin saat Yu Shu, adik Zhi Shu (atau Yuki yang menyebalkan itu), jatuh sakit tiba-tiba dan bagaimana ia menangis di rumah sakit; dan Zhi Shu yang akhirnya menyadari bahwa dirinya juga menyukai Xiang Qin. Ketiga adegan itu benar-benar sesuatu yang terus saya ingat berhari-hari bahkan berminggu-minggu setelah menontonnya. Bahkan saya tonton lagi dan lagi episode-episode itu dan tetap merasa “ya ampun, so sweet”. Kadang saya ikut menangis saat menontonnya, sesuatu yang sangat jarang terjadi saat saya nonton drama atau film lain. Kalau saya boleh menilai, akting mereka sangat alami dan bagus sekali, tapi saya peringatkan bahwa saya bukanlah ahli dunia akting, hahaha.

Versi 2 ini bukan tidak ada kurangnya sama sekali. Kalau Kotoko hanya harus bersaing dengan satu orang untuk mendapatkan Naoki (yaitu Rieko Matsumoto, ingat?), maka Xiang Qin harus bersaing dengan dua orang untuk mendapatkan Zhi Shu, tiga orang bila adik salah satu saingannya yang juga sempat naksir Zhi Shu dihitung. Walaupun saingan-saingan ini tidak selalu muncul bersamaan. Mungkin episod yang panjang itu mengharuskan mereka untuk memasukkan lebih banyak pemain, entahlah.

Versi 2 ini berakhir dengan pernikahan. Akan tetapi ternyata ada season 2-nya. Dan saya belum sempat nonton! Ada yang kurang rasanya. Season 2 ini berjudul They Kiss Again, konon katanya menceritakan kehidupan mereka setelah menikah dan usaha Xiang Qin menggapai mimpinya menjadi perawat. Masih bertekad dalam hati bahwa suatu saat saya pasti akan mendapatkannya karena sekarang ini saya masih mencari j-drama lain serta Itazura na Kiss versi anime yang diproduksi tahun 2008 itu dan baru sempat saya cari sekarang.

Untuk versi anime, yah walaupun belum semua episodenya saya dapatkan, tapi dari sekilas nonton saya simpulkan bahwa jalan ceritanya sama dengan versi 2. Tentu saja dengan perbedaan pada hal-hal detail salah satunya pada unsur budaya karena versi 2 drama Taiwan sementara anime ini buatan Jepang. Versi anime ada 25 episode yang tidak hanya menceritakan masa SMA sampai menikah tapi juga kehidupan setelah mereka menikah. Sepertinya untuk kehidupan setelah menikah ini jalan ceritanya menyerupai jalan cerita They Kiss Again, dugaan saya karena saya belum tahu pasti sebelum nonton They Kiss Again. Oya, Aihara Kotoko dan Irie Naoki, kedua nama itu juga yang digunakan oleh versi anime.

Kemudian saya nonton versi 3. Senang rasanya bisa tahu semua versi dari tiga negara berbeda ini. Maka setelah merampungkan nonton versi 2 pun saya lanjutkan nonton versi 3.

Aihara Kotoko: Oh Ha Ni dan Irie Naoki: Baek Seung Jo. Keduanya juga pas, Ha Ni manis dan Seung Jo keren. Stereotipnya sama dengan tokoh manga-nya. Untuk jalan cerita sebagian besar mengambil dari versi 2 dan versi anime.


Untuk first kiss versi 3 ini, alasan terjadinya sama dengan versi 2, yaitu Ha Ni yang mengatakan bahwa setelah lulus SMA ia akan melupakan Seung Jo malah mendapatkan ciuman. Perbedannya, bila Zhi Shu spontan mencium Xiang Qin, maka ciuman Seung Jo kepada Ha Ni terjadi lebih smooth karena Seung Jo sengaja melakukannya untuk menguji atau meledek Ha Ni. Tapi jujur menurut saya adegannya versi 2 yang spontan itu lebih hidup.

  After the 1st kiss: Si cowok sengaja menguji si cewek dengan menciumnya.
 

Keunggulan dari si versi 3 adalah panjang cerita yang pas, tidak terlalu pendek, tidak terlalu panjang tapi seluruh cerita terangkum dengan baik, ada 16 episode plus 7 episode spesial tentang kehidupan setelah menikah. Saya menduga episod-episod spesial ini sama kayak They Kiss Again, lagi-lagi menduga karena memang, saya belum nonton They Kiss Again, hehe.

Selain itu, karena diproduksi terakhir di antara semua versi Itazura na Kiss (setidaknya sampai tulisan ini diturunkan), versi 3 banyak mengambil poin-poin plus atau hal-hal yang bagus dari versi 1, versi 2, dan versi anime terutama dalam jalan cerita. Tentu saja mereka yang membuatnya juga punya bumbu tambahan sendiri termasuk berbagai hal khas Korea Selatan.

Nah, dari keunggulannya itu, kenapa saya tidak memfavoritkannya? Karena menurut saya pasangan Ha Ni dengan Seung Jo kurang greget. Di antara ketiga adegan yang saya favoritkan di versi 2, greget di versi 3-nya kurang. Selain itu tidak ada adegan lain di versi 3 yang terasa spesial untuk dikenang berminggu-minggu kemudian.

Kemudian tokoh Ha Ni, memang lucu dan manis, tapi tidak segila Xiang Qin yang saat adegan lucu bisa membuat saya ngakak dan saat adegan sedih bisa membuat mata saya berkaca-kaca. Untuk Seung Jo, menurut saya oke, tidak ada yang kurang, walaupun kadang saya kurang setuju dengan dandanannya. Saat main tenis misalnya, dia pernah memakai ikat kepala kecil yang terlihat tidak ada fungsinya selain untuk bergaya. Maklum, saya memang tidak tahu fesyen.


Dan dari segi pakaian yang dikenakan dalam drama, seperti yang saya kenali dalam drama-drama Korea Selatan lainnya, pemeran selalu mencolok bila dibandingkan dengan orang lainnya. Eits, saya tidak bilang ini buruk karena mungkin itu adalah salah satu cara mereka memperkenalkan mode. Dan memang pakaian yang mereka kenakan bagus-bagus apalagi untuk yang cewek (kalau untuk yang cowok, sejujurnya saya ill feel dengan atasan ketat berkerah dower yang sering muncul di drama-drama Korea Selatan, ups).

 

Yang jelas, menyenangkan bisa nonton ketiga versi dramanya. Sekarang saya sedang dalam proses untuk melengkapi versi anime-nya, setelah itu saya akan mencari manga-nya yang dulu sekali belum rampung saya baca, agar koleksi Itazura na Kiss saya benar-benar komplit.
Not an expert judgement, just the opinion of a little fan.