Yap,
Itazura na Kiss.
Drama?
Iya.
Anime? Iya.
Manga? Iya.
Bahkan
dramanya sendiri ada 3 versi, Jepang (atau biasa disebut dorama atau j-drama),
Taiwan, lalu Korea Selatan. Kalau versi sinetron Indonesia-nya dimasukkan,
berarti ya ada 4 versi dramanya, sejauh yang saya tahu. Dia tidak selalu
dikenal sebagai Itazura na Kiss, nama
lainnya It Started with a Kiss, Playful Kiss, Mischievous Kiss, Naughty
Kiss, Ciuman Pertama.
Nah,
kenapa saya tiba-tiba pengen bahas Itazura
na Kiss? Hmm, mungkin karena saya menyukainya dan ingin suatu saat teringat
bahwa saya suka drama ini, terutama yang berjudul It Started with a Kiss yang tidak lain adalah versi drama Taiwan-nya.
Kenapa harus yang ini? Memang, selama ini drama-drama yang saya sukai adalah j-drama
karena tema-tema yang diangkat lebih menarik dan variatif, selain komedi romantis
ada yang tentang kedokteran, psikologi, forensik, kelainan aneh, bahkan politik
tapi semaunya menarik untuk ditonton. Bingung bagaimana drama tentang politik
bisa menarik? Yah, tonton saja Change
di mana Takuya Kimura menjadi perdara menteri. Oke, kembali ke topik. Ya, saya
paling suka versi Taiwan-nya, simple-nya
karena menurut saya di antara semua versi dramanya, dia yang paling oke.
Diantara versi dramanya, yang paling tua adalah Itazura na Kiss yaitu versi Jepang-nya: 1996; disusul It Started with a Kiss versi Taiwan: 2005; lalu Playful Kiss versi Korea Selatan: 2010. Ada jeda empat belas tahun antara versi 1 dengan 3, karenanya menurut saya versi 1 untuk ditonton saat ini jadi kurang bagus, mungkin karena sudah jadul. Hmm aneh, padahal dulu rasanya bagus banget. Tapi temanya memang bagus, mungkin termasuk salah satu drama yang mempopulerkan tema komedi_romantis_di_mana_cewek_suka_duluan. Drama dengan tema seperti itu sekarang banyak, tapi pada tahun 1996, rasa-rasanya tidak, hmm sok tahu saya. Manga-nya sendiri, yang merupakan pelopor Itazura na Kiss ada sejak tahun 1990. Untuk versi anime baru dikerjakan oleh Jepang pada 2008.
Versi
1, kenapa menurut saya kurang bagus? Jujur saja, saya tidak merasakan chemistry antara Kotoko dengan Naoki,
bahkan di pertengahan episode terakhir, yaitu episode 9, rasanya belum bisa
percaya bahwa mereka akan bersatu. Memang jalan ceritanya adalah Naoki baru
menyadari perasaannya di akhir cerita, tapi dikemas kurang smooth sehingga terkesan kurang alami dan menurut saya pernyataan
cinta Naoki kurang so sweet, hehe. Di
lagu ending-nya, pose-pose Kotoko dengan
Naoki yang sama dengan pose-pose tokoh manga memang bagus, tapi justru seperti
usaha terakhir untuk menunjukkan “tenang saja mereka pasti bersatu” di mana hal
tersebut kurang terlihat di jalan ceritanya.
Walaupun
begitu, Irie Naoki tidak tergantikan oleh Jiang Zhi Shu maupun Baek Seung Jo.
Siapa mereka? Kita bahas nanti. Lalu Aihara Kotoko-nya, memang adalah tokoh
yang bodoh, tapi dia terlalu menyebalkan bahkan bagi saya yang jarang kesal
dengan karakter dalam cerita. Saya selalu merasa, seharusnya tokoh Kotoko tidak
seperti ini. Dalam manga maupun anime, Kotoko memang bodoh tapi manis,
sementara di drama tidak ada kesan begitu. Atau mungkin yang garap drama ini
ingin tokoh yang seperti itu ya? Saya juga gak
tahu.
Haha,
saya tidak membenci Kotoko, saya hanya tidak setuju dengan karakternya. Lagi
pula saya suka drama ini. Memang kurang bagus menurut saya tapi saya suka. Sampai
dibuat dalam tiga versi membuktikan bahwa temanya cukup bagus dan cukup punya
nama.
Saat
SMA, ada seorang teman saya yang ganteng, tinggi, pintar (di kelas unggulan)
dan cool. Saya dan beberapa teman
perempuan sering menyebutnya Naoki. Potongan rambutnya waktu itu juga Naoki
banget. Eh, setelah lulus SMA dia kuliah di kedokteran, just like Naoki. Saya semakin melongo dibuatnya. Haha, tapi saya
bukan Kotoko karena rasanya saya tidak sebodoh dia, cerobohnya sih agak-agak mirip ya, hehe. Lagi pula
saya tidak pernah naksir Naoki versi teman SMA saya ini.
Seiring
waktu berlalu, saya mendapat kabar bahwa ada Playful Kiss, versi Korea Selatan-nya. Waktu itu saya kurang tertarik karena membanjirnya
drama Korea Selatan di negeri ini membuat saya kurang berminat. Ketika versi 3
ini diputar di salah satu stasiun TV saya malah tiba-tiba kangen nonton versi
1-nya. Hal itulah yang membuat saya rajin mencari info tentang versi 1 yang sudah lama tidak saya tonton
itu. Dan pada saat itulah saya tahu ada yang namanya It Started with a Kiss, si versi 2. Bagaimana mungkin saya sampai
tidak tahu hal ini?! Haha, #lebay.
Akhirnya,
selesai nonton versi 1, saya pun
melanjutkan nonton versi 2. Awalnya hanya karena penasaran. Tapi setelah tonton, saya mulai merasa versi 2 ini bagus bangeeet. Rupanya ada perubahan jalan
cerita dari versi 1 tapi dengan inti cerita tetap sama.
Aihara
Kotoko: Yuan Xiang Qin dan Irie Naoki: Jiang Zhi Shu. Sewaktu lihat Xiang Qin,
dalam hati saya berkata, “Nah, Kotoko seharusnya seperti ini.” Xiang Qin tidak
begitu cantik, tapi manis, mungil dan imut, raut muka yang agak terlihat tolol
(mungkin ini akting) justru membuatnya terlihat lucu. Sekilas manisnya mirip
dengan Angel Karamoy tapi imutnya mirip Putri Titian, tentu saja ini
subjektivitas saya. Sementara Zhi Shu, sesuai dugaan: tinggi, cool, ganteng. Walaupun di awal ada
kesan “ah, tidak seperti Naoki” tapi lama-kelamaan saya merasa bahwa Zhi Shu keren
dengan caranya sendiri.
Awalnya saya bingung, kenapa versi 2 ini ada sampai 30 episode, padahal versi 1 cuma 9 episode. Setelah saya tonton ternyata ada perubahan jalan cerita. Misalnya pada versi 1, Naoki hanya berencana untuk keluar dari rumah dan tinggal sendiri, di versi 2, Zhi Shu benar-benar melakukannya. Kemudian versi 1, kampus Kotoko dengan Naoki berbeda dan kehidupan kuliah mereka hanya diceritakan singkat saja, pada versi 2, Xiang Qin dengan Zhi Shu kuliah di tempat yang sama dan masa kuliah mereka dicertakan lebih panjang daripada masa SMA.
Satu
hal yang saya perhatikan dari drama Taiwan adalah pakaian yang dikenakan
pemainnya. Kenapa? Karena pakaian keseharian mereka sederhana, seperti yang dikenakan
keseharian oleh orang biasa. Saat memerankan mahasiswa, pakaian mereka tidak
berbeda dengan mahasiswa lain yang terekam di latar belakangnya. Bahkan satu
pakaian yang sama kadang terlihat muncul lebih dari sekali untuk episod yang
berbeda. Bagi saya yang orang sederhana ini, hal itu adalah nilai plus karena
justru membuat cerita terlihat alami. Apalagi Zhi Shu yang punya kebiasaan
membungkus kepalanya dengan handuk olahraga saat berolahraga baik basket maupun
tenis membuatnya terlihat semakin jantan dan sporty karena terkesan dilakukan lebih untuk fungsional dari pada
sekedar fesyen.
Dan perjalanan cinta antara Xiang Qin dengan Zhi Shu pun lebih alami karena ada cukup banyak episod untuk menceritakannya. Tidak terburu-buru. Chemistry antara keduanya pun dapet banget. Hmm, lagi-lagi chemistry, apa itu ya, =P. Di awal cerita setelah ditolak tapi tahu bahwa dia harus tinggal di rumah Zhi Shu, Xiang Qin tidak serta merta gembira bahkan bersikap agak menghindar karena ada rasa malu dan kesal. Yah, cewek mana yang bisa langsung menerima bahwa dirinya ditolak.
Adegan
ciuman, rasanya ini harus dibahas khusus mengingat judul-judulnya selalu
menggunakan kata Kiss, kalau versi 1
ciuman pertama mereka tidak sengaja terjadi yaitu tubrukan di koridor sekolah,
tidak demikian dengan versi 2. Xiang Qin dan Zhi Shu sedang saling kesal, lalu
Xiang Qin berkata bahwa dia tidak akan menyukai Zhi Shu lagi setelah lulus SMA,
spontan he kiss her just like that.
Maksud saya benar-benar spontan, Zhi Shu yang tidak merencanakannya juga
terkejut, dalam hitungan detik setelah ciuman di matanya tergambar keterkejutan
itu tapi segera ia menguasai dirinya, menjulurkan lidah dan meninggalkan Xiang
Qin yang masih terpaku.
After the 1st kiss: Dalam hitungan detik, sorot mata si cowok berkata,"What just I did?". Lucunya...
Selain
ciuman, ada tiga adegan yang terus saya ingat: Zhi Shu yang memayungi tubuh
Xiang Qin yang sedang sakit saat mencari taksi di tengah hujan lebat padahal
tubuhnya sendiri kebasahan; kalutnya Xiang Qin saat Yu Shu, adik Zhi Shu (atau
Yuki yang menyebalkan itu), jatuh sakit tiba-tiba dan bagaimana ia menangis di
rumah sakit; dan Zhi Shu yang akhirnya menyadari bahwa dirinya juga menyukai
Xiang Qin. Ketiga adegan itu benar-benar sesuatu yang terus saya ingat
berhari-hari bahkan berminggu-minggu setelah menontonnya. Bahkan saya tonton
lagi dan lagi episode-episode itu dan tetap merasa “ya ampun, so sweet”. Kadang saya ikut menangis
saat menontonnya, sesuatu yang sangat jarang terjadi saat saya nonton drama
atau film lain. Kalau saya boleh menilai, akting mereka sangat alami dan bagus
sekali, tapi saya peringatkan bahwa saya bukanlah ahli dunia akting, hahaha.
Versi
2 ini bukan tidak ada kurangnya sama sekali. Kalau Kotoko hanya harus bersaing
dengan satu orang untuk mendapatkan Naoki (yaitu Rieko Matsumoto, ingat?), maka
Xiang Qin harus bersaing dengan dua orang untuk mendapatkan Zhi Shu, tiga orang
bila adik salah satu saingannya yang juga sempat naksir Zhi Shu dihitung.
Walaupun saingan-saingan ini tidak selalu muncul bersamaan. Mungkin episod yang
panjang itu mengharuskan mereka untuk memasukkan lebih banyak pemain, entahlah.
Versi
2 ini berakhir dengan pernikahan. Akan tetapi ternyata ada season 2-nya. Dan
saya belum sempat nonton! Ada yang kurang rasanya. Season 2 ini berjudul They Kiss Again, konon katanya menceritakan
kehidupan mereka setelah menikah dan usaha Xiang Qin menggapai mimpinya menjadi
perawat. Masih bertekad dalam hati bahwa suatu saat saya pasti akan mendapatkannya
karena sekarang ini saya masih mencari j-drama lain serta Itazura na Kiss versi anime yang diproduksi tahun 2008 itu dan baru
sempat saya cari sekarang.
Untuk
versi anime, yah walaupun belum semua episodenya saya dapatkan, tapi dari
sekilas nonton saya simpulkan bahwa jalan ceritanya sama dengan versi 2. Tentu
saja dengan perbedaan pada hal-hal detail salah satunya pada unsur budaya
karena versi 2 drama Taiwan sementara anime ini buatan Jepang. Versi anime ada
25 episode yang tidak hanya menceritakan masa SMA sampai menikah tapi juga
kehidupan setelah mereka menikah. Sepertinya untuk kehidupan setelah menikah
ini jalan ceritanya menyerupai jalan cerita They
Kiss Again, dugaan saya karena saya belum tahu pasti sebelum nonton They Kiss Again. Oya, Aihara Kotoko dan
Irie Naoki, kedua nama itu juga yang digunakan oleh versi anime.
Kemudian
saya nonton versi 3. Senang rasanya bisa tahu semua versi dari tiga negara berbeda ini. Maka setelah merampungkan nonton versi 2 pun saya lanjutkan nonton
versi 3.
Aihara Kotoko: Oh Ha Ni dan Irie Naoki: Baek Seung Jo. Keduanya juga pas, Ha Ni manis dan Seung Jo keren. Stereotipnya sama dengan tokoh manga-nya. Untuk jalan cerita sebagian besar mengambil dari versi 2 dan versi anime.
Untuk
first kiss versi 3 ini, alasan
terjadinya sama dengan versi 2, yaitu Ha Ni yang mengatakan bahwa setelah lulus
SMA ia akan melupakan Seung Jo malah mendapatkan ciuman. Perbedannya, bila Zhi
Shu spontan mencium Xiang Qin, maka ciuman Seung Jo kepada Ha Ni terjadi lebih smooth karena Seung Jo sengaja melakukannya untuk menguji atau meledek Ha Ni. Tapi jujur menurut saya
adegannya versi 2 yang spontan itu lebih hidup.
After the 1st kiss: Si cowok sengaja menguji si cewek dengan menciumnya.
Keunggulan
dari si versi 3 adalah panjang cerita yang pas, tidak terlalu pendek, tidak
terlalu panjang tapi seluruh cerita terangkum dengan baik, ada 16 episode plus 7
episode spesial tentang kehidupan setelah menikah. Saya menduga episod-episod
spesial ini sama kayak They Kiss Again,
lagi-lagi menduga karena memang, saya belum nonton They Kiss Again, hehe.
Selain
itu, karena diproduksi terakhir di antara semua versi Itazura na Kiss (setidaknya sampai tulisan ini diturunkan), versi 3
banyak mengambil poin-poin plus atau hal-hal yang bagus dari versi 1, versi 2,
dan versi anime terutama dalam jalan cerita. Tentu saja mereka yang membuatnya
juga punya bumbu tambahan sendiri termasuk berbagai hal khas Korea Selatan.
Nah,
dari keunggulannya itu, kenapa saya tidak memfavoritkannya? Karena menurut saya
pasangan Ha Ni dengan Seung Jo kurang greget. Di antara ketiga adegan yang saya
favoritkan di versi 2, greget di versi 3-nya kurang. Selain itu tidak ada
adegan lain di versi 3 yang terasa spesial untuk dikenang berminggu-minggu
kemudian.
Kemudian
tokoh Ha Ni, memang lucu dan manis, tapi tidak segila Xiang Qin yang saat
adegan lucu bisa membuat saya ngakak
dan saat adegan sedih bisa membuat mata saya berkaca-kaca. Untuk Seung Jo,
menurut saya oke, tidak ada yang kurang, walaupun kadang saya kurang setuju
dengan dandanannya. Saat main tenis misalnya, dia pernah memakai ikat kepala
kecil yang terlihat tidak ada fungsinya selain untuk bergaya. Maklum, saya
memang tidak tahu fesyen.
Dan
dari segi pakaian yang dikenakan dalam drama, seperti yang saya kenali dalam
drama-drama Korea Selatan lainnya, pemeran selalu mencolok bila dibandingkan
dengan orang lainnya. Eits, saya
tidak bilang ini buruk karena mungkin itu adalah salah satu cara mereka
memperkenalkan mode. Dan memang pakaian yang mereka kenakan bagus-bagus apalagi
untuk yang cewek (kalau untuk yang cowok, sejujurnya saya ill feel dengan atasan ketat berkerah dower yang sering muncul di
drama-drama Korea Selatan, ups).
Yang
jelas, menyenangkan bisa nonton ketiga versi dramanya. Sekarang saya sedang
dalam proses untuk melengkapi versi anime-nya, setelah itu saya akan mencari
manga-nya yang dulu sekali belum rampung saya baca, agar koleksi Itazura na Kiss saya benar-benar
komplit.
Not an expert
judgement, just the opinion of a little fan.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar