Rabu, 18 Juli 2012

Saya (Masih) Suka Anime

Bicara tentang anime, saya teringat pernah membaca sekilas sebuah artikel yang bertema: “kebanyakan anime bukan tontonan anak-anak”, saat itu saya masih kelas 7. Saat membaca judul artikel itu, yang terlintas di pikiran saya, “Pasti yang menulis artikel ini adalah orang dewasa yang tidak suka melihat anak-anak nonton anime. Pasti anak-anak cuma disuruh sekolah dan belajar dan tidak nakal.” Lalu saya baca sekilas isi artikel itu dan saya mulai sedikit tahu bahwa yang dibicarakan oleh penulis artikel itu adalah: rating.

Sewaktu SMA, saya sedang menggandrungi Slam Dunk, anime yang diangkat dari manga karya Inoue Takehiko. Saat sedang ngobrol santai dengan salah seorang teman, saya bilang bahwa saya suka banget nonton anime itu dan tanggapannya adalah, “Kalau aku sih sudah gak suka nonton KARTUN.” Waktu itu dia mungkin keheranan kenapa saya yang sudah SMA ini masih suka nonton “kartun”, tapi saya juga keheranan kenapa dia menyebutnya “kartun”.

Memang kebanyakan orang di sekitar saya akan bereaksi sama bila tahu saya suka atau sedang nonton anime. Terus terang saya kesal. Rasanya saya ingin membela diri tapi tidak tahu bagaimana atau apa yang harus saya katakan, karena memang pada dasarnya saya suka “kartun”.

Yah, kebanyakan orang masih menyebutnya kartun, sejenis dengan Mickey Mouse, Tom & Jerry, Winnie The Pooh. Kalau saya lebih suka menyebutnya anime. Sebenarnya secara harfiah saya tidak mengetahui perbedaan antara keduanya, tapi sepertinya anime adalah bagian dari kartun. Hanya saja jika melihat cara pandang  orang-orang di sekitar saya, saya lebih suka membedakannya, terutama dalam bobot cerita. Kartun umumnya diperuntukkan bagi anak-anak, sementara anime memiliki jangkauan rating beragam salah satunya karena faktor bobot cerita.

Dengan kegemaran saya yang belum berubah terhadap kartun, maksud saya anime, sayapun mulai teringat kembali artikel yang dulu pernah saya baca sewaktu SMP, mengenai rating dalam anime, atau kartun dari Jepang. Pada dasarnya tidak semua anime diperuntukkan kepada anak-anak. Banyak diantaranya yang mengisahkan petarung sehingga adegan pertarungan sengit yang pasti ada tentu tidak seharusnya menjadi konsumsi anak kecil. Dan kadang ada beberapa anime yang mengandung adegan cukup “dewasa”. Belum lagi pakaian yang dikenakan oleh kebanyakan karakter perempuannya yang seksi. Lalu ada pula yang banyak mengisahkan pembunuhan. Dan memang, anak kecil menyerap informasi akan sekelilingnya jauh lebih banyak dari pada orang dewasa dan mereka masih pada tahap meniru, jadi wajar bila penulis artikel di majalah itu membicarakan rating untuk anime.

Di luar itu semua, anime adalah tontonan yang berkualitas.  Bukan hanya film atau drama yang dimainkan oleh manusia saja yang memiliki bobot, bahkan jalan cerita yang kompleks. Bicara tentang jalan cerita yang kompleks, saya tidak akan melupakan Death Note yang diangkat dari manga karya Tsigumi Ohba dan Takeshi Obata. Versi manga-nya saja bagi saya adalah salah satu cerita narasi paling rumit yang pernah saya baca. Saya juga akan selalu ingat bagaimana kreatifnya Aoyama Gosho dalam membuat tiap cerita Detective Conan. Juga bagaimana kompleksnya jalan cerita dalam Gundam dan kerennya para mecha jauh sebelum ada Transformer. Kemudian ada Rurouni Kenshin dari manga karya Nobuhiro Watsuki yang setting-nya tidak main-main yaitu Jepang pada masa Restorasi Meiji. Dan tentu saja Hana Yori Dango, dari manga karya Yoko Kamio, yang akan menggelikan kalau anime-nya diputar sebagai tontonan anak-anak sementara ketiga versi dramanya (Hana Yori Dango: Jepang, Meteor Garden: Taiwan, BBF: Korea Selatan) adalah tontonan remaja.

Karenanya cukup mengherankan ketika anime-anime yang cukup dewasa (bobot ceritanya) diputar Minggu pagi oleh stasiun TV swasta dengan pembuka, “Adik-adik yang manis, saatnya kita nonton…”. Eaaa….!!! Akibatnya banyak orangtua yang protes karena anak-anaknya menonton acara yang lebih dewasa dari usianya.

Dan dengan alasan yang sama, saya heran bila ada seseorang yang mengatakan, “Sudah gede kok masih nonton kartun,” kepada saya.

Untuk teman saya yang sudah-tidak-suka-nonton-kartun.