Bicara tentang anime, saya teringat pernah
membaca sekilas sebuah artikel yang bertema: “kebanyakan anime bukan tontonan
anak-anak”, saat itu saya masih kelas 7. Saat membaca judul artikel itu, yang
terlintas di pikiran saya, “Pasti yang menulis artikel ini adalah orang dewasa
yang tidak suka melihat anak-anak nonton anime. Pasti anak-anak cuma disuruh
sekolah dan belajar dan tidak nakal.” Lalu saya baca sekilas isi artikel itu
dan saya mulai sedikit tahu bahwa yang dibicarakan oleh penulis artikel itu
adalah: rating.
Sewaktu SMA, saya sedang menggandrungi Slam Dunk, anime yang diangkat dari manga karya Inoue Takehiko. Saat sedang
ngobrol santai dengan salah seorang teman, saya bilang bahwa saya suka banget
nonton anime itu dan tanggapannya adalah, “Kalau aku sih sudah gak suka nonton KARTUN.”
Waktu itu dia mungkin keheranan kenapa saya yang sudah SMA ini masih suka
nonton “kartun”, tapi saya juga keheranan kenapa dia menyebutnya “kartun”.
Memang kebanyakan orang di sekitar saya akan
bereaksi sama bila tahu saya suka atau sedang nonton anime. Terus terang saya
kesal. Rasanya saya ingin membela diri tapi tidak tahu bagaimana atau apa yang
harus saya katakan, karena memang pada dasarnya saya suka “kartun”.
Yah, kebanyakan orang masih menyebutnya
kartun, sejenis dengan Mickey Mouse, Tom & Jerry, Winnie The Pooh. Kalau saya lebih suka menyebutnya anime.
Sebenarnya secara harfiah saya tidak mengetahui perbedaan antara keduanya, tapi
sepertinya anime adalah bagian dari kartun. Hanya saja jika melihat cara
pandang orang-orang di sekitar saya,
saya lebih suka membedakannya, terutama dalam bobot cerita. Kartun umumnya
diperuntukkan bagi anak-anak, sementara anime memiliki jangkauan rating beragam
salah satunya karena faktor bobot cerita.
Dengan kegemaran saya yang belum berubah
terhadap kartun, maksud saya anime, sayapun mulai teringat kembali artikel yang
dulu pernah saya baca sewaktu SMP, mengenai rating dalam anime, atau kartun
dari Jepang. Pada dasarnya tidak semua anime diperuntukkan kepada anak-anak. Banyak
diantaranya yang mengisahkan petarung sehingga adegan pertarungan sengit yang
pasti ada tentu tidak seharusnya menjadi konsumsi anak kecil. Dan kadang ada
beberapa anime yang mengandung adegan cukup “dewasa”. Belum lagi pakaian yang dikenakan
oleh kebanyakan karakter perempuannya yang seksi. Lalu ada pula yang banyak
mengisahkan pembunuhan. Dan memang, anak kecil menyerap informasi akan
sekelilingnya jauh lebih banyak dari pada orang dewasa dan mereka masih pada
tahap meniru, jadi wajar bila penulis artikel di majalah itu membicarakan rating untuk anime.
Di luar itu semua, anime adalah tontonan
yang berkualitas. Bukan hanya film atau
drama yang dimainkan oleh manusia saja yang memiliki bobot, bahkan jalan cerita
yang kompleks. Bicara tentang jalan cerita yang kompleks, saya tidak akan
melupakan Death Note yang diangkat
dari manga karya Tsigumi Ohba dan Takeshi Obata. Versi manga-nya saja bagi saya adalah salah satu cerita narasi paling
rumit yang pernah saya baca. Saya juga akan selalu ingat bagaimana kreatifnya
Aoyama Gosho dalam membuat tiap cerita Detective Conan. Juga bagaimana
kompleksnya jalan cerita dalam Gundam dan kerennya para mecha jauh sebelum ada Transformer.
Kemudian ada Rurouni Kenshin dari manga
karya Nobuhiro Watsuki yang setting-nya
tidak main-main yaitu Jepang pada masa Restorasi Meiji. Dan tentu saja Hana
Yori Dango, dari manga karya Yoko
Kamio, yang akan menggelikan kalau anime-nya diputar sebagai tontonan anak-anak
sementara ketiga versi dramanya (Hana Yori Dango: Jepang, Meteor Garden:
Taiwan, BBF: Korea Selatan) adalah tontonan remaja.
Karenanya cukup mengherankan ketika
anime-anime yang cukup dewasa (bobot ceritanya) diputar Minggu pagi oleh
stasiun TV swasta dengan pembuka, “Adik-adik yang manis, saatnya kita nonton…”.
Eaaa….!!! Akibatnya banyak orangtua yang protes karena anak-anaknya menonton
acara yang lebih dewasa dari usianya.
Dan dengan alasan yang sama, saya heran
bila ada seseorang yang mengatakan, “Sudah gede kok masih nonton kartun,” kepada
saya.
Untuk teman saya yang sudah-tidak-suka-nonton-kartun.