Selasa, 12 Mei 2026

Tungau Air yang Diberi Nama Mojacko

 Saya tumbuh besar di desa pada tahun 90-an dengan bagian belakang rumah adalah persawahan dan sungai-sungai kecil. Dulu hiburan kami (saya dan kedua adik saya) tak banyak sehingga menjelajahi sawah, kolam kecil, sungai kecil adalah salah satu kegemaran kami saat musim hujan. Satu hal yang blown our mind adalah banyaknya makhluk hidup di air yang aneh-aneh.

Sebagai anak kecil, kami amat takjub karena tak seorangpun membicarakan ini. Tak seorangpum mebicarakan bahwa kecebong itu berbeda-beda ukuran, warna, dan coraknya. Bahkan saat masih kecil, saya sudah menduga bahwa yang abu-abu bulat besar dengan yang hitam bercorak perak lonjong pasti dari spesies katak yang berbeda. Serius, lo, kecebong di kolam itu beda-beda dan agak membuat saya gemes karena tak tahu harus diskusi dengan siapa tentang penemuan besar itu. Tentu saja, teman ngobrol semua itu adalah kedua adik saya yang mau saja mengikuti saya main air.

Oke, cukup tentang kecebong. Di kolam yang jernih, kami juga biasa menemukan kumbang air. Ya, kumbang, berenangnya di air. Oh, you have no idea how happy we were at that time for finding something so unique. Belum pernah terlibat di benak kami ada serangga, tepatnya kumbang, yang bisa berenang di air. Oya, kami saat kecil belum mengenal takut atau ngeri terhadap serangga. Bagi kami, apa yang lucu dan unik, ya lucu dan unik. Saat itupun, kami tak tahu apa sebutan untuk serangga itu sehingga kami tak menamainya secara khusus. Barulah akhir-akhir ini saya tahu bahwa serangga itu desebut diving beetle atau kumbang penyelam. Diving beetle punya dua kaki belakang yang entah bagaimana saat menyelam gerakannya mirip sekali dengan kaki belakang penyu. Gosh, lucu banget.

Lalu ada pula serangga yang lebih kecil, mirip lalat tapi lebih panjang, yang punya dua kaki pendayung. Kami yang masih bocil saat itu menyebutnya lalat air. Tentu karena kami tak tahu apa sebutan untuk serangga itu. Saat ini barulah saya tahu bahwa serangga itu adalah greater water boatman. Apa bahasa Indonesianya? Saya tak tahu. Selama tidak diketahui sebutannya, saya akan tetap memanggilnya lalat air, haha

Si lalat air ini punya adik, serangga air perenang hampir serupa yang sulit sekali kami tangkap. Karenaya kami menyebutnya pelari cepat. Kalau dipikir-pikir harusnya kami memanggilnya penyelam cepat. Rupanya, serangga ini adalah lesser water boatman.

Daaan, hewan air yang paling menakjubkan bagi saya saat kecil adalah Mojacko (Jadiii, Mojacko adalah salah satu tokoh anime saat saya kecil dulu yang berbentuk bola, seukuran bola basket dan berwarna cerah). Di perairan air tawar, saya dan kedua adik saya sering menemukan hewan kecil, berukuran kira-kira 1-3 mm, berbentuk bulat, berwarna cerah (ada yang merah, jingga, hijau), agak berbulu halus, dan bisa berenang dengan cepat. Maaannn, lucu sekali. Terlalu lucu untuk jadi nyata. Karena tak tahu namanya, kami menyebutnya Mojacko.

Saat itu satu hal yang cukup mengganggu pikiran saya adalah, hewan ini sudah diketahui keberadannya secara ilmiah atau belum? Apakah sudah ada orang yang menemukan hewan ini dan memberinya nama? Haha, saya sempat menganggap bahwa belum ada satupun orang yang tahu tentang hewan ini, dan saya perlu memberitahu ilmuwan tentang ini. Tentu saja karena dia amat kecil dan saya yakin tak ada orang dewasa yang cukup peduli untuk memperhatikannya.

Selama bertahun-tahun, saya tak tahu hewan apa itu. Bagi saya, dia adalah Mojacko tanpa tahu dia termasuk hewan apa, bahkan saya tak tahu dia serangga atau bukan. Lalu digerakkan oleh memori masa kecil, saya mencoba mencari hewan itu di internet dengan berbagai kata kunci, "small water bug", "little water insect" dan entah apa lagi. Lalu sampailah saya pada istilah water mites atau tungau air. Jadi, tungau adalah semacam kutu keciiil. Setahu saya, tungau hidup di darat. Tak tahunya, ada juga yang hidup di air. Dan definisi serta penjalasan tentang water mites atau tungau air inilah yang paling mendekati dengan apa yang dulu saat kecil kami sebut sebagai Mojacko.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar